Jakarta, 1 November 2026 – PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), perusahaan yang mengelola ekosistem perdagangan digital Blibli, mencatatkan pendapatan sebesar Rp22,23 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Capaian hingga kuartal III-2026 tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam menilai perkembangan bisnis perusahaan di tengah persaingan industri perdagangan digital Indonesia. Sebagai perusahaan yang bergerak dalam ekosistem omnichannel, BELI mengintegrasikan layanan perdagangan elektronik dengan jaringan ritel fisik dan berbagai layanan pendukung. Kinerja pendapatan perusahaan juga menjadi perhatian investor karena mencerminkan aktivitas transaksi serta kemampuan bisnis dalam mempertahankan operasional di tengah perubahan perilaku konsumen. Meski demikian, besarnya pendapatan belum secara langsung menunjukkan tingkat keuntungan yang diperoleh perusahaan karena masih terdapat berbagai komponen biaya yang harus diperhitungkan. Oleh sebab itu, perkembangan kinerja BELI perlu dilihat secara menyeluruh melalui pendapatan, profitabilitas, efisiensi operasional, dan strategi pengembangan bisnis yang dijalankan sepanjang tahun.
Kinerja BELI selama periode Januari hingga September 2026 tidak dapat dilepaskan dari karakteristik bisnis perusahaan yang menggabungkan aktivitas perdagangan digital dan jaringan penjualan secara langsung. Melalui platform Blibli, perusahaan melayani kebutuhan konsumen terhadap berbagai kategori produk, mulai dari perangkat elektronik hingga kebutuhan rumah tangga dan gaya hidup. Di sisi lain, keberadaan jaringan ritel fisik memberikan pilihan tambahan bagi pelanggan yang ingin melihat produk secara langsung sebelum melakukan pembelian. Integrasi kedua saluran tersebut menjadi bagian dari pendekatan omnichannel yang bertujuan menciptakan pengalaman belanja lebih fleksibel. Konsumen dapat memanfaatkan layanan digital untuk mencari informasi produk, membandingkan pilihan, dan melakukan transaksi sesuai kebutuhan. Sementara itu, dukungan toko fisik dan sistem pemenuhan pesanan berperan dalam meningkatkan kenyamanan serta kepercayaan pelanggan. Kombinasi tersebut menjadi salah satu fondasi operasional BELI dalam mempertahankan relevansi bisnisnya di tengah persaingan yang semakin dinamis.
Pendapatan sebesar Rp22,23 triliun juga perlu dipahami dalam konteks perubahan pola konsumsi masyarakat dan perkembangan industri perdagangan elektronik nasional. Konsumen saat ini memiliki semakin banyak pilihan untuk memperoleh produk melalui marketplace, toko resmi merek, jaringan ritel modern, maupun platform yang menggabungkan berbagai saluran penjualan. Persaingan tersebut mendorong perusahaan perdagangan digital untuk tidak hanya mengandalkan promosi harga, tetapi juga meningkatkan kualitas pelayanan dan keandalan distribusi. Bagi BELI, kemampuan menghadirkan produk yang sesuai kebutuhan pelanggan menjadi faktor penting dalam menjaga aktivitas transaksi. Selain itu, kecepatan pengiriman, ketersediaan barang, kemudahan pembayaran, dan layanan purnajual dapat memengaruhi keputusan konsumen untuk kembali berbelanja. Dalam kondisi pasar yang kompetitif, perusahaan perlu menyeimbangkan upaya meningkatkan penjualan dengan pengendalian biaya agar pertumbuhan bisnis tetap berkelanjutan. Karena itu, angka pendapatan sembilan bulan pertama 2026 menjadi salah satu ukuran skala bisnis, tetapi belum cukup untuk menggambarkan keseluruhan kualitas kinerja keuangan perusahaan.
Pertumbuhan pendapatan BELI terlihat lebih jelas ketika dibandingkan dengan kinerja pada periode yang sama tahun sebelumnya. Berdasarkan laporan perusahaan, pendapatan neto konsolidasian meningkat 46 persen secara tahunan dari Rp15,24 triliun pada sembilan bulan pertama 2025 menjadi Rp22,24 triliun pada periode Januari hingga September 2026, dengan perbedaan angka pembulatan dalam sejumlah pemberitaan. Khusus kuartal III-2026, pendapatan mencapai Rp7,41 triliun atau meningkat 31 persen dibandingkan Rp5,64 triliun pada kuartal III-2025. Peningkatan tersebut didorong oleh kontribusi berbagai segmen usaha, termasuk penjualan produk elektronik, telepon pintar, produk olahraga, layanan perjalanan daring, serta bisnis institusi. Segmen institusi menjadi salah satu penyumbang pertumbuhan terbesar dengan pendapatan sekitar Rp9,92 triliun atau meningkat 70 persen secara tahunan. Sementara itu, jaringan toko fisik membukukan pendapatan sekitar Rp6,63 triliun, naik 37 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perkembangan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan perusahaan tidak hanya berasal dari transaksi perdagangan elektronik, tetapi juga dari perluasan aktivitas bisnis yang menjangkau konsumen dan pelanggan institusi melalui berbagai saluran.
Dari sisi profitabilitas, BELI mencatatkan sejumlah perbaikan meskipun perusahaan masih membukukan kerugian operasional. Laba bruto konsolidasian meningkat sekitar 29 persen menjadi Rp3,46 triliun dibandingkan Rp2,68 triliun pada sembilan bulan pertama tahun sebelumnya. Namun, margin laba bruto mengalami penurunan dari 17,6 persen menjadi 15,6 persen akibat perubahan komposisi produk yang dijual. Perusahaan juga berhasil menekan beban operasional menjadi sekitar Rp4,31 triliun, turun dari Rp4,37 triliun pada periode sebelumnya. Efisiensi tersebut membantu mengurangi rugi usaha sebesar 53 persen menjadi Rp783 miliar dibandingkan kerugian sekitar Rp1,68 triliun pada periode Januari hingga September 2025. Sementara itu, kerugian EBITDA menyusut sekitar 61 persen menjadi Rp566 miliar dari sebelumnya Rp1,46 triliun. Perbaikan tersebut menjadi indikator bahwa strategi pengendalian biaya mulai memberikan dampak terhadap kinerja keuangan, meskipun perusahaan masih perlu melanjutkan upaya peningkatan profitabilitas.
Efisiensi operasional juga tercermin dari peningkatan take rate atau tingkat monetisasi transaksi perusahaan yang mencapai 9,1 persen sepanjang sembilan bulan pertama 2026, dibandingkan 8,4 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Khusus kuartal III-2026, angka tersebut meningkat menjadi 9,3 persen, sejalan dengan perbaikan pengelolaan pendapatan dan kontribusi berbagai layanan dalam ekosistem perusahaan. Rasio beban operasional terhadap total nilai transaksi atau total processing value (TPV) turut turun dari 7,2 persen menjadi 6,4 persen. Perubahan tersebut berkontribusi terhadap perbaikan rasio EBITDA terhadap TPV sebesar 160 basis poin secara tahunan. Dari sisi likuiditas, perusahaan mencatatkan posisi kas dan setara kas sekitar Rp1,37 triliun pada akhir September 2026, dibandingkan Rp1,54 triliun pada akhir Desember 2025. Penurunan kas tersebut berlangsung di tengah kebutuhan pendanaan aktivitas operasional, investasi, dan pengembangan jaringan bisnis. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengelolaan arus kas tetap menjadi perhatian penting agar pertumbuhan pendapatan dapat berjalan beriringan dengan kemampuan perusahaan menjaga stabilitas keuangan.
Memasuki kuartal IV-2026, manajemen BELI berkomitmen melanjutkan penguatan ekosistem perdagangan digital yang terintegrasi dengan jaringan ritel fisik dan layanan pendukung lainnya. CEO sekaligus Co-Founder Blibli Kusumo Martanto menekankan pentingnya pertumbuhan pendapatan yang berkualitas, disiplin investasi, dan peningkatan efisiensi sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperluas jaringan toko fisik dengan menambah 31 gerai baru sepanjang kuartal III-2026. Hingga akhir September, perusahaan mengoperasikan 347 toko elektronik konsumen, 24 toko elektronik rumah tangga, satu toko fesyen dan olahraga, 60 supermarket premium, serta 39 pusat pengalaman produk rumah dan gaya hidup. BELI juga mengembangkan layanan Fulfillment at Speed untuk meningkatkan efisiensi pemenuhan pesanan serta memperkuat integrasi rantai pasok bagi penjual dan mitra bisnis. Selain itu, peluncuran kartu kredit BCA Blibli Tiket Mastercard menjadi bagian dari upaya memperluas layanan pembayaran dalam ekosistem perusahaan. Dengan pendapatan yang tumbuh signifikan dan kerugian operasional yang semakin berkurang, BELI menghadapi peluang untuk memperkuat kinerja pada akhir 2026, sekaligus tantangan mempertahankan efisiensi dan meningkatkan profitabilitas secara berkelanjutan.




