Jakarta, 31 Oktober 2026 – Indonesian Tennis Society (ITS) memperkenalkan konsep baru kompetisi tenis amatir yang mengintegrasikan sistem pengumpulan poin, pemeringkatan pemain, dan pengelompokan kemampuan melalui platform digital. Inovasi yang dikembangkan oleh CX PRO Indonesia tersebut diperkenalkan dalam acara CX Indonesia Fest 2026 di Jakarta pada Kamis, 29 Oktober 2026. Kehadiran ITS bertujuan menciptakan ekosistem pertandingan yang lebih terstruktur sekaligus memberikan kesempatan kepada pemain amatir untuk mengembangkan kemampuan secara berkelanjutan. Melalui sistem ini, peserta tidak hanya mengikuti turnamen untuk memperebutkan gelar juara, tetapi juga dapat mengumpulkan poin yang berpengaruh terhadap perkembangan peringkat mereka. Konsep tersebut diharapkan mampu menjawab kebutuhan komunitas tenis yang menginginkan kompetisi lebih adil dan memiliki kesinambungan. ITS juga memanfaatkan teknologi digital agar hasil pertandingan dan perkembangan peserta dapat dipantau secara transparan. ANTARA News
Pendiri CX PRO Indonesia, Donny Widyanto, menjelaskan bahwa pengembangan Indonesian Tennis Society berawal dari pengamatan terhadap berbagai persoalan yang ditemukan dalam penyelenggaraan kompetisi tenis amatir. Salah satu tantangan utama adalah belum adanya kesinambungan antara turnamen yang diikuti pemain sehingga perkembangan kemampuan mereka sulit diukur secara konsisten. Selain itu, perbedaan tingkat keterampilan antarpeserta sering kali membuat pertandingan berlangsung kurang seimbang. Kondisi tersebut dapat mengurangi kesempatan pemain pemula untuk memperoleh pengalaman kompetitif yang sesuai dengan kemampuan mereka. Persoalan lainnya berkaitan dengan terbatasnya penghargaan terhadap partisipasi pemain yang aktif mengikuti turnamen meskipun belum berhasil meraih kemenangan. Melalui ITS, penyelenggara berupaya menghubungkan berbagai aspek tersebut dalam satu sistem kompetisi yang dapat digunakan secara berkelanjutan. Pendekatan ini menjadikan pengalaman peserta sebagai bagian penting dalam pengembangan ekosistem olahraga komunitas.
Salah satu keunggulan yang diperkenalkan ITS adalah pembagian pemain ke dalam enam kategori berdasarkan tingkat kemampuan. Keenam kategori tersebut meliputi Beginner, Upper Beginner, Intermediate, Upper Intermediate, Advanced, dan Upper Advanced. Pengelompokan ini dirancang agar peserta dapat menghadapi lawan dengan kemampuan relatif setara sehingga pertandingan berlangsung lebih kompetitif. Bagi pemain pemula, sistem tersebut memberikan kesempatan untuk membangun pengalaman bertanding tanpa harus langsung menghadapi peserta dengan kemampuan jauh lebih tinggi. Sementara itu, pemain yang lebih berpengalaman dapat menguji keterampilan mereka melalui pertandingan pada kategori yang sesuai. Pembagian tingkat kemampuan juga membantu penyelenggara menyusun pertandingan dengan mempertimbangkan keseimbangan kompetisi. Melalui mekanisme tersebut, ITS berharap setiap pemain memperoleh pengalaman yang lebih menyenangkan sekaligus memiliki kesempatan meningkatkan kemampuan secara bertahap.
Selain pengelompokan kemampuan, ITS memperkenalkan dua jenis poin yang memiliki fungsi berbeda dalam sistem kompetisi. Jenis pertama adalah Ranking Points yang digunakan untuk menentukan pemeringkatan sekaligus mendukung kenaikan tingkat kemampuan pemain. Poin tersebut memungkinkan peserta melihat perkembangan posisi mereka setelah mengikuti berbagai turnamen yang tergabung dalam ekosistem ITS. Jenis kedua adalah Redeem Points yang dapat ditukarkan dengan produk dari mitra penyelenggara sesuai ketentuan program. Mekanisme ini dirancang sebagai bentuk penghargaan atas keterlibatan peserta sehingga pengalaman mengikuti pertandingan tidak hanya berfokus pada hasil akhir. Melalui sistem tersebut, pemain memiliki motivasi tambahan untuk terus mengikuti kompetisi dan meningkatkan keterampilan. Penggabungan poin peringkat dan penghargaan juga menjadi bagian dari strategi penyelenggara dalam membangun keterlibatan komunitas tenis amatir secara berkelanjutan. Mitra Jakarta
Seluruh hasil pertandingan dan perkembangan peringkat pemain dirancang terintegrasi melalui platform digital Indonesian Tennis Society. Melalui layanan tersebut, peserta dapat memantau akumulasi poin, posisi pemeringkatan, serta perkembangan mereka dari satu turnamen menuju kompetisi berikutnya. Sistem ini juga menyediakan informasi mengenai peringkat individu dan tim sehingga aktivitas pertandingan dapat terdokumentasi dalam satu ekosistem. Pencatatan secara digital menjadi langkah penting untuk meningkatkan transparansi sekaligus memberikan kemudahan bagi peserta dalam mengakses informasi kompetisi. Bagi penyelenggara, integrasi data dapat membantu menjaga kesinambungan hasil pertandingan dan mengurangi keterputusan informasi antarturnamen. Sementara itu, pemain memperoleh gambaran mengenai pencapaian yang telah diraih serta target perkembangan yang ingin dicapai. Kehadiran platform tersebut diharapkan dapat memperkuat hubungan antara pemain, komunitas, dan penyelenggara melalui pengalaman kompetisi yang lebih terukur.
Pengembangan ITS juga menjadi contoh penerapan konsep customer experience atau pengalaman pelanggan dalam kegiatan olahraga komunitas. Salah satu pendiri CX Indonesia, Yanuar Rezqi, menilai pendekatan tersebut dapat digunakan untuk membangun hubungan yang lebih berkelanjutan antara peserta dan penyelenggara kompetisi. Dalam konsep ini, pengalaman pemain tidak berhenti ketika pertandingan selesai atau setelah pemenang diumumkan. Setiap tahapan, mulai dari pengelompokan kemampuan, pelaksanaan turnamen, pencatatan hasil, hingga pemberian penghargaan, dirancang menjadi bagian dari perjalanan peserta. Donny Widyanto menyampaikan bahwa tenis menjadi cabang olahraga pertama yang digunakan untuk memperkenalkan pendekatan tersebut. Ke depan, prinsip pengembangan kompetisi yang sama direncanakan dapat diterapkan pada cabang olahraga lainnya. Langkah ini memperlihatkan upaya CX PRO Indonesia memperluas penerapan pengelolaan pengalaman peserta dari sektor bisnis menuju kegiatan olahraga yang melibatkan komunitas masyarakat. ANTARA News
Kehadiran Indonesian Tennis Society diharapkan dapat memberikan pilihan baru bagi masyarakat yang ingin mengikuti kompetisi tenis amatir secara lebih teratur dan berkesinambungan. Melalui pengelompokan kemampuan, peserta memperoleh kesempatan menghadapi pertandingan yang lebih seimbang sekaligus meningkatkan keterampilan secara bertahap. Sistem Ranking Points memungkinkan pemain mengukur perkembangan prestasi, sedangkan Redeem Points memberikan manfaat tambahan melalui program penghargaan. Keberhasilan penerapan konsep tersebut akan bergantung pada konsistensi penyelenggaraan turnamen, kejelasan aturan pemeringkatan, serta kemampuan platform digital dalam mengelola data secara akurat. Dukungan komunitas tenis dan mitra penyelenggara juga menjadi faktor penting untuk memperluas partisipasi pemain dari berbagai tingkat kemampuan. Apabila sistem tersebut berjalan secara konsisten, ITS berpotensi mendorong terbentuknya lingkungan kompetisi yang lebih inklusif sekaligus meningkatkan minat masyarakat terhadap olahraga tenis. Melalui penggabungan teknologi digital, sistem penghargaan, dan pengembangan kemampuan pemain, Indonesian Tennis Society berupaya menghadirkan model kompetisi amatir yang tidak hanya mengejar kemenangan, tetapi juga menekankan sportivitas dan partisipasi jangka panjang.




