Jakarta, 4 September 2026 – Bek Persija Jakarta Pratama Arhan harus menjalani operasi setelah mengalami fraktur phalanx atau patah tulang pada bagian jari tangan. Cedera tersebut dialami Arhan ketika memperkuat Macan Kemayoran menghadapi Brisbane Roar dalam agenda Rise For Glory! Persija Team Launch and Friendly Match di Jakarta International Stadium (JIS), Sabtu, 29 Agustus 2026. Setelah menjalani pemeriksaan medis, tim dokter menemukan adanya fraktur yang membutuhkan tindakan lebih lanjut sehingga operasi dilakukan pada Selasa, 1 September 2026. Dokter Persija Muhammad Andeansah memperkirakan Arhan membutuhkan waktu sekitar empat hingga enam minggu untuk menjalani proses pemulihan. Meski demikian, cedera pada tangan membuat pemain berusia 24 tahun tersebut masih memiliki kemungkinan menjalani aktivitas latihan tertentu selama tidak mengganggu proses penyembuhan. Kondisinya akan terus dipantau untuk menentukan kapan Arhan dapat kembali menjalani aktivitas sepak bola secara penuh.
Fraktur phalanx merupakan patah atau retak pada tulang phalanx yang membentuk jari tangan maupun jari kaki. Pada tangan manusia, setiap jari kecuali ibu jari mempunyai tiga ruas phalanx, yaitu proximal, middle, dan distal, sedangkan ibu jari memiliki dua ruas. Struktur tulang tersebut berperan penting dalam berbagai gerakan tangan, mulai dari menggenggam hingga melakukan gerakan presisi. Dalam olahraga seperti sepak bola, cedera dapat terjadi akibat benturan langsung, terjatuh dengan posisi tangan menahan tubuh, jari terjepit, atau terkena kontak dengan pemain maupun objek lain. Tingkat keparahan fraktur dapat berbeda, mulai dari retakan sederhana dengan posisi tulang tetap stabil hingga patahan yang membuat fragmen tulang bergeser. Kondisi terakhir biasanya membutuhkan penanganan lebih kompleks agar bentuk dan fungsi jari dapat dipertahankan.
Gejala fraktur phalanx umumnya muncul segera setelah trauma terjadi. Penderitanya dapat merasakan nyeri pada jari yang semakin kuat ketika bagian tersebut disentuh atau digerakkan, disertai pembengkakan dan terkadang memar. Pada cedera yang lebih berat, bentuk jari dapat terlihat berubah, bengkok, mengalami rotasi, atau tidak berada pada posisi normal. Kemampuan menggerakkan jari juga dapat berkurang karena nyeri maupun gangguan mekanis akibat posisi tulang. Pemeriksaan terhadap fungsi saraf dan pembuluh darah turut diperlukan karena trauma yang cukup kuat berpotensi melibatkan jaringan di sekitar tulang. Karena gejalanya terkadang menyerupai keseleo atau cedera jaringan lunak, pemeriksaan pencitraan seperti sinar-X biasanya diperlukan untuk memastikan keberadaan dan karakter patahan.
Tidak semua kasus fraktur phalanx harus ditangani melalui operasi seperti yang dijalani Arhan. Pada patahan yang stabil dan tidak mengalami pergeseran signifikan, dokter dapat menggunakan metode konservatif berupa splint, imobilisasi, atau mengikat jari yang cedera dengan jari di sebelahnya. Tujuannya mempertahankan posisi tulang selama proses penyembuhan berlangsung sekaligus mencegah gerakan yang dapat memperburuk cedera. Dalam kondisi tertentu, dokter juga dapat melakukan reduksi tertutup untuk mengembalikan fragmen tulang menuju posisi yang lebih baik tanpa pembedahan. Setelah stabilitas dianggap mencukupi, gerakan secara bertahap biasanya mulai diperkenalkan untuk mengurangi risiko kekakuan. Pemilihan metode selalu bergantung pada lokasi patahan, pola fraktur, stabilitas, pergeseran tulang, kondisi jaringan lunak, dan kebutuhan fungsional pasien.
Operasi biasanya dipertimbangkan apabila fraktur tidak stabil, mengalami pergeseran yang berpotensi menyebabkan deformitas, melibatkan permukaan sendi secara signifikan, atau tidak dapat dipertahankan dalam posisi yang baik menggunakan metode konservatif. Fraktur terbuka juga membutuhkan perhatian khusus karena terdapat hubungan antara luka dan area patahan sehingga risiko infeksi menjadi lebih besar. Dalam prosedur operasi tertentu, dokter dapat menggunakan kawat Kirschner, sekrup, maupun perangkat fiksasi lain untuk mempertahankan posisi fragmen tulang. Stabilitas tersebut dibutuhkan agar tulang dapat menyatu pada posisi yang tepat sekaligus mempertahankan fungsi jari. Namun jenis tindakan yang digunakan pada setiap pasien dapat berbeda berdasarkan karakter cedera. Persija sendiri tidak memerinci teknik operasi maupun jenis fiksasi yang digunakan dalam penanganan Arhan.
Pemulihan fraktur phalanx tidak hanya berfokus pada proses menyatunya tulang. Salah satu tantangan setelah cedera jari adalah mempertahankan rentang gerak agar persendian tidak mengalami kekakuan berkepanjangan. Imobilisasi memang diperlukan untuk memberikan stabilitas, tetapi periode tanpa gerakan yang terlalu panjang juga dapat memengaruhi fungsi tangan. Karena itu, latihan gerak biasanya dimulai ketika dokter menilai kondisi patahan telah cukup stabil, dengan waktu yang berbeda pada setiap pasien. Rehabilitasi dapat mencakup pengendalian pembengkakan, latihan rentang gerak, peningkatan kekuatan secara bertahap, hingga pemulihan kemampuan menggunakan tangan dalam aktivitas sehari-hari. Pada atlet profesional, proses tersebut juga perlu disesuaikan dengan tuntutan olahraga yang dijalani.
Dalam kasus Arhan, dokter Persija memperkirakan proses pemulihan berlangsung sekitar empat sampai enam minggu. Estimasi tersebut tidak selalu berarti pemain harus berhenti melakukan seluruh aktivitas sepak bola selama periode yang sama. Karena cedera berada pada jari tangan, program latihan fisik dapat disesuaikan selama dokter menilai aktivitas tersebut tidak meningkatkan risiko terhadap bagian yang menjalani operasi. Persija bahkan membuka kemungkinan Arhan tetap menjalani latihan dan pertandingan dengan menggunakan proteksi khusus apabila kondisinya memungkinkan. Keputusan tersebut tetap bergantung pada perkembangan luka operasi, stabilitas tulang, tingkat nyeri, serta evaluasi tim medis. Keselamatan pemain menjadi pertimbangan utama karena benturan atau jatuh ketika tulang belum cukup stabil dapat mengganggu proses penyembuhan.
Cedera Arhan datang pada waktu yang kurang ideal karena Persija tengah mempersiapkan diri menghadapi Super League 2026-2027. Macan Kemayoran dijadwalkan membuka kompetisi dengan menghadapi Borneo FC di Samarinda pada Sabtu, 5 September 2026. Arhan juga bukan satu-satunya pemain Persija yang berada dalam pemantauan tim medis menjelang dimulainya kompetisi. Sejumlah pemain lain seperti Dony Tri Pamungkas, Gustavo Franca, Muhammad Ferarri, dan Alan Cardoso juga menjalani proses pemulihan dari masalah kebugaran maupun cedera masing-masing. Situasi tersebut membuat tim pelatih harus mengelola kondisi skuad secara hati-hati pada periode awal musim. Persija tentu tidak ingin mempercepat kembalinya pemain apabila terdapat risiko cedera menjadi lebih berat.
Secara umum, prognosis fraktur phalanx cukup baik apabila patahan mendapatkan penanganan yang sesuai dan program rehabilitasi dijalankan dengan benar. Sebagian besar fraktur dapat menyatu dan penderitanya kembali memperoleh fungsi tangan yang baik. Namun sejumlah komplikasi tetap mungkin terjadi, seperti kekakuan jari, berkurangnya rentang gerak, infeksi setelah operasi, nyeri menetap, hingga tulang menyatu dalam posisi yang kurang ideal. Pada sebagian kecil kasus, proses penyatuan juga dapat berlangsung lebih lambat daripada yang diharapkan. Karena itu, pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk memantau posisi dan proses penyembuhan tulang. Bagi atlet, pemulihan fungsi penuh menjadi sangat penting karena tangan tetap berperan ketika menjaga keseimbangan, melakukan kontak fisik, dan melindungi tubuh ketika terjatuh.
Operasi yang dijalani Pratama Arhan menunjukkan bahwa cedera jari tidak selalu dapat dianggap sebagai persoalan ringan meskipun tidak secara langsung mengenai bagian utama tubuh yang digunakan untuk menendang bola. Fraktur phalanx membutuhkan penanganan berdasarkan karakter patahan agar tulang dapat kembali menyatu dengan posisi dan fungsi yang optimal. Dalam kasus tertentu, cukup dilakukan imobilisasi, sedangkan cedera yang tidak stabil dapat membutuhkan operasi untuk mendapatkan fiksasi lebih baik. Arhan kini memasuki periode pemulihan yang diperkirakan berlangsung empat hingga enam minggu dengan perkembangan kondisinya terus dipantau tim medis Persija. Kemungkinan kembali bermain dapat muncul lebih cepat apabila bagian yang cedera dapat dilindungi dengan aman dan dokter memberikan izin. Fokus utama tetap memastikan tulang pulih dengan baik sehingga Arhan dapat kembali memperkuat Persija tanpa membawa risiko gangguan fungsi jari dalam jangka panjang.




