Nagoya, 24 September 2026 – Nama Pitchamon Opatniputh menjadi perhatian pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 setelah pebulu tangkis tunggal putri Thailand itu mendapat skorsing sementara terkait temuan zat terlarang. International Testing Agency (ITA), yang menjalankan program antidoping untuk Olympic Council of Asia (OCA), menyatakan sampel Pitchamon menghasilkan Adverse Analytical Finding untuk furosemide. Sampel tersebut diambil dalam pemeriksaan di luar kompetisi pada 17 September 2026 di Nagoya. Status Pitchamon saat ini merupakan skorsing sementara karena proses penanganan kasusnya masih berjalan.
Pitchamon merupakan pebulu tangkis kelahiran Chiang Mai, Thailand, pada 4 Januari 2007 dan kini berusia 19 tahun. Atlet yang akrab disapa “Pink” tersebut mulai mengenal bulu tangkis sejak berusia sekitar lima tahun. Pada tahap awal perkembangannya, Pitchamon mendapat bimbingan dari ayahnya, Phiphat Opatniputh, sebelum kemudian berlatih di bawah Kasemsak Jatuchinda. Perjalanannya berlanjut melalui sistem pembinaan Badminton Association of Thailand hingga menembus tim nasional.
Pitchamon bermain di sektor tunggal putri dan menggunakan tangan kanan. Perkembangan kariernya berlangsung cepat hingga ia menjadi salah satu pemain muda paling menonjol yang dimiliki Thailand. Pada 2023, Pitchamon mencapai peringkat satu dunia junior dan kemudian menjuarai nomor tunggal putri BWF World Junior Championships. Prestasi tersebut semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu penerus generasi tunggal putri Thailand, dengan Ratchanok Intanon menjadi salah satu pemain yang disebut sebagai panutannya.
Memasuki Asian Games 2026, Pitchamon sudah berada di jajaran elite dunia. Pada 21 September 2026, ia tercatat menempati peringkat ke-18 dunia tunggal putri dan menjadi pemain tunggal putri Thailand dengan peringkat tertinggi ketiga. Sepanjang musim 2026, Pitchamon mencapai final Indonesia Masters dan Orleans Masters serta semifinal Thailand Open. Performa tersebut membuatnya menjadi salah satu pemain yang diandalkan Thailand dalam persaingan bulu tangkis Asia.
Perjalanan Pitchamon di Asian Games kemudian terganggu setelah hasil pemeriksaan antidoping diumumkan. ITA menyatakan sampelnya mengandung furosemide, zat yang masuk kategori S5 Diuretics and Masking Agents dalam daftar terlarang WADA 2026. Zat tersebut dilarang setiap saat, baik ketika atlet sedang maupun tidak sedang berkompetisi. Furosemide dapat digunakan untuk mengeluarkan air dari tubuh dengan cepat dan dikategorikan sebagai specified substance dalam aturan antidoping.
Setelah pemberitahuan hasil tersebut, Pitchamon langsung dikenai skorsing sementara. Konsekuensinya, ia tidak diperbolehkan bertanding, berlatih, melatih, maupun mengikuti aktivitas selama Asian Games Aichi-Nagoya 2026 selama skorsing tersebut berlaku. OCA menyatakan Pitchamon belum sempat tampil dalam pertandingan Asian Games ketika hasil tes diumumkan. Ia sebelumnya dijadwalkan memperkuat Thailand pada perempat final beregu putri melawan China pada 22 September.
Status skorsing sementara tersebut penting dibedakan dari keputusan akhir mengenai pelanggaran antidoping. Pitchamon memiliki hak untuk menantang pemberlakuan skorsing sementara di Court of Arbitration for Sport Anti-Doping Division. Ia juga berhak meminta analisis terhadap sampel B. ITA menyatakan tidak akan memberikan komentar lebih lanjut selama proses penanganan kasus masih berlangsung. Dengan demikian, hasil pemeriksaan awal belum merupakan putusan akhir mengenai sanksi yang nantinya mungkin dijatuhkan.
Kasus tersebut menjadi sorotan besar karena Pitchamon merupakan salah satu pemain muda yang tengah menanjak. Sebelum tampil di level senior, ia sudah mempunyai rekam prestasi kuat di kelompok usia junior. Selain gelar juara dunia junior 2023, Pitchamon pernah menjadi bagian dari tim putri Thailand yang meraih emas SEA Games 2021 dan 2023 serta tim yang mendapatkan perunggu Piala Uber 2022. Rekam jejak itu membuat namanya cukup dikenal bahkan sebelum berhasil menembus 20 besar peringkat dunia.
Pitchamon juga semakin dikenal publik Indonesia setelah tampil pada Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan, Jakarta. Dalam turnamen tersebut, ia melaju hingga pertandingan final tunggal putri dan menghadapi pemain China Chen Yu Fei pada 25 Januari 2026. Penampilannya sepanjang turnamen memperlihatkan perkembangan signifikan dalam persaingan level senior. Foto-foto Pitchamon ketika bertanding di Indonesia Masters kemudian kembali banyak digunakan dalam pemberitaan setelah kasus antidoping di Asian Games mencuat.
Untuk saat ini, perjalanan Pitchamon Opatniputh di Asian Games 2026 terhenti akibat skorsing sementara tersebut. Fokus berikutnya berada pada proses antidoping, termasuk kemungkinan analisis sampel B dan langkah hukum yang tersedia bagi atlet. ITA dan OCA belum menetapkan hasil akhir maupun sanksi final karena perkara masih berjalan. Karena itu, temuan furosemide dan pemberlakuan skorsing sementara merupakan fakta yang telah dikonfirmasi, sedangkan kesimpulan akhir mengenai pelanggaran serta konsekuensi jangka panjang terhadap karier Pitchamon masih menunggu penyelesaian prosedur antidoping.




