Jakarta, 30 Agustus 2026 – Proyek hunian LRT City yang dikembangkan PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) bakal mendapat suntikan dana sebesar Rp456 miliar dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Pendanaan tersebut disiapkan untuk membantu menyelesaikan persoalan proyek yang mengalami keterlambatan dan berdampak pada ribuan konsumen.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, sebelumnya menyatakan dana Rp456 miliar dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan lebih dari 2.000 konsumen yang telah melakukan pembayaran untuk hunian LRT City. Dana tersebut direncanakan diberikan melalui skema equity injection atau penyertaan modal.
Manajemen ADCP kini masih membahas secara lebih rinci penggunaan dana tersebut bersama PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) selaku induk perusahaan dan Danantara. Pembahasan tersebut mencakup penentuan proyek yang akan menjadi prioritas pendanaan.
“ADCP masih berdiskusi dengan ADHI dan Danantara terkait penggunaan dana serta prioritas proyek yang akan didanai,” kata manajemen ADCP.
Perusahaan memastikan proses pengajuan, penetapan, hingga penggunaan dana akan dilakukan dengan memperhatikan prinsip Good Corporate Governance (GCG) serta tata kelola perusahaan yang berlaku. Keputusan final mengenai alokasi dana akan diumumkan setelah tercapai kesepakatan antara pihak-pihak terkait.
Prioritaskan Penyelesaian Proyek
Suntikan dana tersebut menjadi bagian dari upaya menyelesaikan persoalan sejumlah proyek LRT City yang mengalami kendala pembangunan. Beberapa proyek yang sebelumnya menjadi perhatian antara lain hunian di kawasan Tebet, Ciracas, dan Cibubur.
Keterlambatan pembangunan dan serah terima unit membuat sejumlah konsumen meminta kepastian penyelesaian. Sebagian bahkan mengajukan pengembalian dana setelah menunggu cukup lama.
Danantara menilai penyelesaian persoalan konsumen menjadi hal penting karena banyak pembeli telah menggunakan tabungan mereka untuk membeli hunian. Oleh sebab itu, intervensi pendanaan diarahkan untuk memberikan jalan keluar terhadap persoalan yang terjadi.
Meski demikian, rincian penggunaan Rp456 miliar belum ditetapkan secara final. Belum ada pembagian resmi mengenai berapa dana yang akan dialokasikan untuk pembangunan fisik, penyelesaian kewajiban kepada konsumen, maupun kebutuhan lain yang berkaitan dengan penyelesaian proyek.
Manajemen ADCP juga belum menyampaikan daftar proyek mana yang akan menjadi penerima prioritas. Keputusan tersebut masih menunggu hasil pembahasan bersama ADHI dan Danantara.
Kendala Keuangan Jadi Salah Satu Faktor
Sebelumnya, ADCP mengakui adanya tekanan likuiditas yang berdampak terhadap penyelesaian sejumlah proyek. Kondisi tersebut membuat beberapa pembangunan hunian berbasis Transit Oriented Development (TOD) mengalami keterlambatan.
Model pengembangan TOD membutuhkan investasi besar sejak tahap awal karena pembangunan tidak hanya mencakup hunian, tetapi juga kawasan dan fasilitas pendukung yang terintegrasi dengan transportasi publik.
Di tengah kondisi pasar properti yang belum sepenuhnya pulih, tekanan terhadap penjualan dan arus kas turut menjadi tantangan bagi perusahaan. ADCP kemudian melakukan berbagai upaya untuk mencari solusi, termasuk menawarkan alternatif kepada konsumen dan menjajaki kerja sama dengan investor maupun kontraktor strategis.
Suntikan modal dari Danantara diharapkan dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk kembali menjalankan pembangunan sekaligus menyelesaikan kewajiban kepada konsumen.
Masih Ada Pertanyaan soal Kecukupan Dana
Meskipun Rp456 miliar menjadi suntikan penting, besaran dana tersebut juga menimbulkan pertanyaan mengenai kecukupannya untuk menyelesaikan seluruh persoalan LRT City.
Pengamat properti Steve Sudijanto sebelumnya menilai kebutuhan penyelesaian proyek tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik. Ada pula kebutuhan untuk menyelesaikan perizinan, testing and commissioning, hingga biaya operasional sebelum pengelolaan hunian dapat berjalan secara normal.
Karena itu, penggunaan dana perlu disusun berdasarkan skala prioritas yang jelas. Penyelesaian unit yang sudah dibeli masyarakat menjadi salah satu aspek penting agar konsumen memperoleh kepastian mengenai nasib hunian mereka.
Di sisi lain, perusahaan juga perlu memastikan proyek yang kembali berjalan memiliki pendanaan dan rencana bisnis yang memadai agar tidak kembali menghadapi persoalan serupa di kemudian hari.
Dengan suntikan Rp456 miliar tersebut, ADCP kini memiliki peluang untuk mempercepat penyelesaian sejumlah proyek LRT City. Namun, efektivitas pendanaan akan sangat bergantung pada keputusan mengenai proyek prioritas, mekanisme penggunaan dana, serta kemampuan perusahaan memastikan pembangunan dan pemenuhan hak konsumen berjalan sesuai rencana.
Untuk saat ini, ADCP masih berkoordinasi dengan ADHI dan Danantara. Setelah kesepakatan final tercapai, perusahaan akan menyampaikan proyek-proyek yang menjadi prioritas penggunaan dana tersebut.





