Jakarta, 17 September 2026 – Militer Israel menghadapi persoalan keamanan serius setelah senjata dan amunisi dilaporkan dicuri dari sejumlah gudang militernya selama perang di Gaza dan kemudian beredar di luar kendali aparat. Barang yang hilang tidak hanya berupa amunisi, tetapi juga mencakup persenjataan militer seperti roket antitank LAW. Laporan mengenai pencurian tersebut mencuat setelah senjata kelas militer ditemukan digunakan dalam sejumlah insiden kriminal di Israel. Aparat bahkan disebut belum mengetahui secara pasti jumlah senjata dan amunisi yang telah keluar dari gudang militer. Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran karena sebagian persenjataan memiliki daya rusak jauh lebih besar dibandingkan senjata api ilegal yang biasa beredar. Aparat keamanan Israel kini berusaha memetakan skala pencurian sekaligus keberadaan senjata yang telah berpindah tangan.
Dua insiden yang terjadi pada pekan ini menjadi salah satu petunjuk mengenai beredarnya roket LAW di luar lingkungan militer. Roket antitank tersebut dilaporkan digunakan dalam kejadian di Sajur dan Jaljulia, dua wilayah di Israel. Salah satu kasus yang mendapat perhatian adalah penembakan roket ke arah rumah seorang anggota polisi perbatasan di Sajur. Pelaku bertopeng disebut menembakkan roket sebelum meninggalkan lokasi. Polisi masih menyelidiki motif serangan tersebut dan belum memastikan apakah berkaitan dengan persoalan pribadi atau pekerjaan korban sebagai aparat. Kemunculan roket antitank dalam kasus kriminal membuat kekhawatiran mengenai kebocoran persenjataan militer semakin meningkat.
Pencurian diduga meningkat ketika gudang unit darurat militer dibuka selama berlangsungnya perang di Gaza. Pembukaan gudang dalam situasi perang membuat pergerakan senjata dan amunisi berlangsung dalam volume tinggi sehingga proses pencatatan menjadi lebih sulit. Dalam kondisi tersebut, amunisi yang hilang dapat tercatat sebagai perlengkapan yang telah digunakan dalam operasi tempur. Situasi itu membuat jumlah sebenarnya dari senjata yang dicuri sulit diketahui secara akurat. Penurunan harga sejumlah senjata di pasar gelap juga dinilai menjadi indikasi bahwa pasokan ilegal meningkat dalam jumlah besar. Aparat kini menghadapi tantangan untuk menelusuri persenjataan yang sudah berpindah dari gudang militer menuju jaringan kriminal.
Roket antitank bukan satu-satunya perlengkapan militer yang menjadi perhatian. Kelompok kriminal dilaporkan memiliki akses terhadap granat, mortir serta berbagai jenis amunisi yang sebelumnya digunakan oleh militer. Aparat Israel memperkirakan kelompok kriminal di wilayah utara dan kawasan Triangle memiliki sedikitnya sekitar 10 roket LAW serta puluhan mortir. Sebagian mortir tersebut juga dikhawatirkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat alat peledak. Keberadaan persenjataan semacam itu meningkatkan tingkat ancaman terhadap masyarakat maupun aparat keamanan. Polisi memperingatkan penyebaran senjata militer dapat menyebabkan insiden dengan dampak jauh lebih besar apabila tidak segera dikendalikan.
Penggunaan granat dalam tindak kriminal juga dilaporkan mengalami peningkatan tajam dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah insiden kriminal yang melibatkan granat tercatat meningkat dari 75 kasus pada 2023 menjadi 988 kasus sepanjang 2024. Perubahan tersebut menunjukkan senjata yang sebelumnya identik dengan kebutuhan militer semakin sering ditemukan dalam konflik kriminal. Pada pekan ini, sebuah granat juga dilaporkan dijatuhkan menggunakan drone dalam insiden di Nazareth. Pemanfaatan drone memberikan tantangan baru karena pelaku dapat menyerang dari jarak tertentu tanpa harus mendekati sasaran. Perkembangan tersebut membuat aparat mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap kombinasi drone dan senjata militer dalam aktivitas kriminal.
Investigasi unit Lahav 433 kepolisian Israel juga menemukan persoalan terkait pembelian drone berukuran besar yang memiliki kemampuan membawa muatan. Sejumlah perusahaan di komunitas Badui dilaporkan membeli ratusan drone menggunakan faktur yang diduga tidak sah. Keberadaan sebagian drone tersebut belum berhasil dilacak sehingga aparat tidak mengetahui secara pasti bagaimana perangkat itu digunakan. Salah satu kemungkinan yang sedang diperiksa adalah pemanfaatannya untuk aktivitas penyelundupan. Polisi, militer dan badan keamanan Shin Bet kini mengevaluasi ancaman yang dapat muncul dari penggunaan drone oleh jaringan kriminal. Kekhawatiran semakin besar karena perangkat tersebut berpotensi membawa granat maupun bahan peledak.
Persoalan pencurian senjata dari fasilitas militer Israel sebenarnya telah muncul sebelum laporan terbaru. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kasus menunjukkan amunisi, granat dan perlengkapan militer lainnya berhasil keluar dari pangkalan melalui pencurian maupun dugaan keterlibatan orang dalam. Sejumlah tentara juga pernah ditangkap dalam penyelidikan terkait hilangnya perlengkapan militer. Data penyelidikan sebelumnya menunjukkan puluhan ribu butir amunisi pernah hilang dari pangkalan di wilayah selatan maupun utara Israel. Kondisi perang kemudian membuat pengawasan menjadi semakin kompleks karena distribusi senjata berlangsung dalam jumlah besar dan cepat. Aparat menghadapi tugas untuk memperketat sistem inventarisasi sekaligus mengidentifikasi celah keamanan yang memungkinkan pencurian terus terjadi.
Temuan terbaru membuat persoalan keamanan gudang senjata menjadi perhatian karena dampaknya tidak berhenti pada kehilangan aset militer. Senjata yang masuk ke pasar gelap dapat digunakan dalam perselisihan antarkelompok kriminal, serangan terhadap aparat maupun tindak kekerasan lainnya. Polisi Israel kini berupaya melacak jaringan yang memperjualbelikan senjata sekaligus menemukan kembali perlengkapan militer yang telah dicuri. Militer juga menghadapi tekanan untuk memperbaiki pencatatan dan pengamanan gudang setelah besarnya kemungkinan jumlah persenjataan yang hilang terungkap. Belum ada angka resmi yang menunjukkan keseluruhan senjata dan amunisi yang saat ini berada di luar kendali aparat. Penyelidikan lanjutan diharapkan dapat mengungkap jalur pencurian serta pihak-pihak yang terlibat dalam peredaran senjata militer tersebut.





