Jakarta, 30 Agustus 2026 – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuding sejumlah elemen di dalam pemerintahan Amerika Serikat (AS) berupaya memanipulasi pasar energi demi memperoleh keuntungan pribadi. Tuduhan tersebut disampaikan Araghchi melalui platform X pada Sabtu, 29 Agustus 2026, dengan menyebut bahwa informasi intelijen Iran menunjukkan adanya upaya besar untuk memengaruhi pergerakan pasar energi. Menurutnya, sejumlah pihak di pemerintahan AS memanfaatkan media yang mudah dipengaruhi untuk membentuk persepsi mengenai kondisi pasar dan kemudian berdampak terhadap harga energi. Araghchi juga mengaitkan langkah tersebut dengan konflik yang masih berlangsung antara Iran, AS, dan Israel. Ia menilai perkembangan pasar energi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari kepentingan politik dan strategi dalam konflik yang lebih luas.
Araghchi menyatakan bahwa media yang dianggap mudah percaya digunakan untuk menyebarkan informasi atau penilaian yang dapat memengaruhi sentimen pasar. Menurut klaimnya, pengaruh tersebut kemudian dapat dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk mendapatkan keuntungan ketika harga energi mengalami perubahan. Ia tidak menjelaskan secara rinci siapa pejabat yang dimaksud, instrumen pasar apa yang diduga digunakan, maupun bagaimana keuntungan pribadi tersebut diperoleh. Pernyataan tersebut juga tidak disertai bukti konkret yang dapat diverifikasi secara independen. Karena itu, tudingan tersebut masih merupakan klaim dari pihak Iran dan belum dapat dipastikan kebenarannya. Meski demikian, pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana pasar energi telah menjadi salah satu bagian penting dalam dinamika konflik antara Iran dan negara-negara yang berseberangan dengannya.
Dalam pernyataannya, Araghchi juga menuding aktor-aktor yang berafiliasi atau berpihak kepada Israel ikut mendorong kelanjutan konflik melalui penilaian yang disebutnya terlalu optimistis. Ia menilai berbagai penilaian mengenai perkembangan perang dapat memengaruhi persepsi masyarakat dan pelaku pasar terhadap kondisi energi global. Menurut Araghchi, narasi mengenai perkembangan konflik dapat memberikan dampak terhadap harga minyak dan komoditas energi lainnya, terutama ketika pasar menghadapi ketidakpastian mengenai pasokan. Situasi tersebut menjadi semakin sensitif karena kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pusat produksi dan distribusi energi dunia. Ketegangan di kawasan tersebut dapat dengan cepat memengaruhi ekspektasi pasar bahkan sebelum terjadi perubahan nyata terhadap jumlah pasokan.
Araghchi juga mengaitkan dugaan manipulasi tersebut dengan Presiden AS Donald Trump. Ia menuduh adanya pihak tertentu yang berusaha membuat Trump tetap terlibat dalam perang yang menurutnya merugikan. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah Iran melihat konflik tidak hanya sebagai persoalan militer, tetapi juga sebagai arena pertarungan kepentingan politik dan ekonomi. Iran selama ini menghadapi tekanan dari AS dalam berbagai bentuk, termasuk tekanan ekonomi dan kebijakan yang berkaitan dengan sektor energi. Kondisi tersebut membuat setiap perubahan harga energi memiliki arti penting bagi perekonomian Iran maupun negara-negara yang memiliki hubungan perdagangan energi dengan kawasan tersebut. Pemerintah Iran juga berupaya membangun narasi bahwa dampak kebijakan terhadap pasar energi pada akhirnya dapat dirasakan oleh masyarakat di negara-negara yang menerapkannya.
Salah satu poin yang ditekankan Araghchi adalah dampak terhadap konsumen Amerika Serikat. Ia menyebut masyarakat AS pada akhirnya akan menanggung biaya nyata dari perkembangan harga energi yang terjadi akibat situasi tersebut. Harga energi memiliki pengaruh luas karena perubahan harga minyak dapat berdampak terhadap biaya transportasi, produksi, distribusi, dan berbagai kebutuhan rumah tangga. Kenaikan harga energi juga dapat meningkatkan biaya operasional perusahaan dan kemudian memengaruhi harga barang maupun jasa. Karena itu, gejolak pasar energi tidak hanya menjadi persoalan bagi produsen minyak dan gas, tetapi juga dapat memberikan dampak terhadap perekonomian secara keseluruhan. Iran menggunakan argumen tersebut untuk menegaskan bahwa kebijakan dan konflik yang berkaitan dengan energi dapat menghasilkan konsekuensi ekonomi bagi masyarakat di luar kawasan Timur Tengah.
Ketegangan antara Iran dan AS sendiri berlangsung dalam situasi geopolitik yang kompleks. Konflik militer antara AS-Israel dan Iran pecah pada 28 Februari 2026 setelah serangkaian serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran yang kemudian dibalas oleh Teheran. Perkembangan tersebut meningkatkan ketidakpastian terhadap keamanan kawasan sekaligus menimbulkan kekhawatiran mengenai kelancaran distribusi energi global. Ketegangan tersebut kemudian berlanjut dengan berbagai tekanan ekonomi dan langkah politik yang dilakukan oleh masing-masing pihak. Meskipun sempat terdapat upaya untuk menghentikan permusuhan melalui nota kesepahaman pada pertengahan Juni, hubungan kedua pihak kembali memburuk setelahnya. Situasi tersebut membuat isu energi tetap menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan hubungan Iran dan AS.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif dalam persoalan tersebut karena jalur perairan itu memiliki peran penting dalam perdagangan minyak dan gas dunia. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut dapat meningkatkan kekhawatiran pasar mengenai ketersediaan pasokan energi. Iran sebelumnya membatasi lalu lintas pelayaran melalui selat tersebut, sementara AS meningkatkan tekanan terhadap Teheran melalui berbagai langkah ekonomi dan maritim. Setiap perkembangan mengenai keamanan Selat Hormuz dapat langsung diperhatikan oleh pelaku pasar karena perubahan kondisi di sana berpotensi memengaruhi biaya pengiriman dan persepsi mengenai pasokan energi. Karena itu, pernyataan pejabat Iran mengenai pasar energi muncul dalam konteks kawasan yang memang sedang menghadapi ketidakpastian tinggi.
Pergerakan harga energi juga sangat sensitif terhadap informasi mengenai konflik dan keamanan jalur perdagangan. Ketika muncul laporan mengenai potensi gangguan pasokan, pelaku pasar dapat meningkatkan perkiraan risiko sehingga harga komoditas bergerak sebelum dampak fisik benar-benar terjadi. Sebaliknya, informasi mengenai kemungkinan meredanya konflik dapat menurunkan kekhawatiran terhadap pasokan dan mendorong perubahan harga ke arah berbeda. Kondisi tersebut membuat informasi dan komunikasi publik memiliki pengaruh besar terhadap sentimen pasar. Namun, pengaruh informasi terhadap harga tidak secara otomatis membuktikan adanya manipulasi yang dilakukan oleh pejabat pemerintah. Untuk membuktikan dugaan tersebut diperlukan data transaksi, hubungan kepentingan, pola perdagangan, serta bukti lain yang dapat menunjukkan adanya tindakan terencana untuk memperoleh keuntungan.
Pernyataan Araghchi juga muncul ketika pemerintah AS terus meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Washington sebelumnya telah mengambil berbagai langkah untuk membatasi sumber pendapatan Iran, termasuk menargetkan jaringan perdagangan energi dan keuangan yang dianggap membantu aktivitas ekonomi Teheran. Tekanan tersebut menjadi bagian dari strategi AS untuk memperlemah kemampuan Iran dalam membiayai kegiatan yang dianggap bertentangan dengan kepentingan Washington. Bagi Iran, kebijakan tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap perekonomian dan kemampuan negara dalam mengelola pendapatan dari sektor energi. Karena itu, tudingan mengenai manipulasi pasar energi juga tidak dapat dipisahkan dari persaingan ekonomi yang berlangsung di antara kedua negara.
Di sisi lain, perkembangan pasar energi global tidak hanya ditentukan oleh konflik Iran dan AS. Faktor produksi negara-negara penghasil minyak, tingkat permintaan global, kebijakan energi, kondisi ekonomi dunia, stok komoditas, serta gangguan pada jalur perdagangan juga dapat memengaruhi harga. Pelaku pasar biasanya memperhitungkan berbagai faktor tersebut secara bersamaan sebelum menentukan keputusan perdagangan. Ketidakpastian geopolitik memang dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan volatilitas, tetapi perubahan harga tidak selalu menunjukkan adanya tindakan manipulasi. Karena itu, tudingan yang disampaikan pemerintah Iran perlu dilihat dalam konteks persaingan geopolitik yang sedang berlangsung. Bukti yang lebih rinci akan dibutuhkan apabila tuduhan tersebut ingin dibuktikan secara independen.
Bagi Iran, isu pasar energi memiliki arti strategis karena sektor energi merupakan bagian penting dari perekonomian negara tersebut. Pembatasan perdagangan, sanksi, serta gangguan terhadap jalur ekspor dapat memberikan dampak terhadap pendapatan negara dan kemampuan perusahaan menjalankan aktivitas perdagangan. Di tengah tekanan tersebut, Teheran berusaha mempertahankan posisi dan aksesnya dalam pasar energi internasional. Pernyataan Araghchi dapat dipandang sebagai bagian dari upaya Iran menyampaikan pandangannya mengenai faktor-faktor yang menurut pemerintahnya memengaruhi pasar. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pesan politik kepada AS dan pihak-pihak yang dianggap mendukung kebijakan Washington.
Tudingan mengenai manipulasi pasar energi pada akhirnya menambah dimensi baru dalam ketegangan Iran dan Amerika Serikat. Konflik yang sebelumnya banyak dibahas dari sisi keamanan dan militer kini semakin berkaitan dengan perdagangan, energi, serta kondisi ekonomi global. Pasar akan terus memperhatikan setiap perkembangan yang berkaitan dengan Selat Hormuz, produksi minyak, sanksi, dan hubungan antara negara-negara yang terlibat dalam konflik. Sementara itu, tuduhan Araghchi mengenai keuntungan pribadi pejabat AS masih berada pada tahap klaim dan belum disertai bukti konkret yang dapat memastikan kebenarannya. Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada kondisi konflik, kebijakan ekonomi kedua negara, serta respons pasar terhadap setiap informasi baru.






