Jakarta, 1 Mei 2026 – Presiden Masoud Pezeshkian memperingatkan bahwa Amerika Serikat masih berpotensi melancarkan serangan militer terhadap Iran bahkan di tengah proses negosiasi yang sedang berlangsung.
Dalam pernyataannya, Pezeshkian menegaskan bahwa tingkat kepercayaan Iran terhadap Amerika Serikat telah “sepenuhnya hilang” akibat serangan yang terjadi sebelumnya. Ia menilai bahwa pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa dialog tidak selalu menjamin keamanan dari tindakan militer.
Peringatan tersebut muncul di tengah upaya diplomasi yang masih berjalan, termasuk pengiriman proposal baru Iran kepada Amerika Serikat melalui mediator. Namun, situasi di lapangan tetap dinilai rentan dengan kemungkinan eskalasi yang belum sepenuhnya mereda.
Iran juga menilai bahwa langkah-langkah militer seperti blokade dan tekanan dari pihak AS merupakan bagian dari strategi yang memperumit proses negosiasi. Pemerintah Iran menyebut kondisi ini sebagai tantangan serius dalam membangun kesepakatan yang adil.
Di sisi lain, Amerika Serikat dilaporkan masih mempertimbangkan berbagai opsi kebijakan, termasuk kemungkinan langkah militer lanjutan. Hal ini semakin memperkuat kekhawatiran Iran terhadap potensi serangan baru.
Pengamat hubungan internasional menilai bahwa pernyataan Pezeshkian mencerminkan ketegangan tinggi yang masih membayangi proses diplomasi. Ketidakpercayaan antar kedua negara menjadi hambatan utama dalam mencapai kesepakatan.
Meski demikian, jalur negosiasi tetap terbuka dengan harapan dapat meredakan konflik yang berdampak luas terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi global.
Situasi ini menunjukkan bahwa diplomasi dan kekuatan militer masih berjalan beriringan dalam dinamika hubungan Iran dan Amerika Serikat. Dunia internasional kini menantikan apakah peringatan tersebut akan berujung pada deeskalasi atau justru memperpanjang ketegangan yang ada.






